Pembelotan Elite Korea Utara Tanda Krisis Serius bagi Rezim Kim Jong-un

Kim Chul Jin
Mantan Kepala Perusahaan Perdagangan Korea Utara di area Luar Negeri
BARU-baru ini, Ri Il-kyu, mantan Konselor di area Kedutaan Korea Utara di area Kuba, membelot bersatu keluarganya dan juga datang ke Korea Selatan.
Mantan Konselor yang dimaksud menyatakan motivasinya membelot: ‘’Korea Utara akan menjadi publik yang mana suram oleh sebab itu bukan akan memiliki masa depan akibat eksploitasi tenaga kerja, penilaian yang dimaksud tiada adil, lalu kemarahan terhadap rezim. Saya bukan dapat membiarkan anak-anak saya hidup di area rakyat Korea Utara.’’ Pikiran ini tampaknya tidak ada belaka dimiliki oleh mantan Konselor Ri Il-kyu.
Apa yang dirasakan mantan Konselor Ri Il-kyu merupakan perasaan khawatir yang tersebut dirasakan oleh semua orang di tempat Korea Utara. Saya terus-menerus khawatir tentang masa depan anak-anak saya, baik ketika saya berada di dalam Korea Utara maupun pada waktu saya bertugas pada Kantor Perwakilan Perdagangan Luar Negeri.
Memikirkan masa depan di area Korea Utara, di dalam mana masa depannya tak jelas, bagaikan mimpi sia-sia seperti mencoba menangkap pelangi di dalam langit. Gagasan untuk setia terhadap keluarga Kim selama sisa hidup adalah penderitaan yang digunakan hanya sekali bisa jadi saya tanggung, namun saya ingin anak-anak saya hidup di tempat dunia tanpa kekhawatiran, di area mana tiada ada pengawasan dan juga kontrol, dan juga di tempat mana merek bisa jadi menikmati kebebasan.
Saya memutuskan untuk membelot demi masa depan anak-anak saya, dengan pemikiran yang mana sebanding seperti mantan Konselor Ri Il-kyu. Pembelotan Ri Il-kyu kemungkinan besar sudah memberikan pukulan psikologis yang digunakan signifikan bagi pemerintah Korea Utara, para diplomat juga kantor perwakilannya pada luar negeri, para pekerjanya yang tersebut bertugas di tempat luar negeri, dan juga rakyatnya di tempat di Korea Utara.
Rezim Korea Utara mungkin saja khawatir bahwa kontrol juga pengawasan sekadar tidak ada akan mampu menjaga dari gelombang keinginan akan kebebasan. Dan hal itu kelihatannya telah dilakukan memberi harapan terhadap warga Korea Utara bahwa dengan tekad kemudian keberanian saja, mereka bisa jadi menemukan kebebasan.
Pembelotan mantan Konselor Ri Il-kyu mungkin saja merupakan tanda bahwa keruntuhan rezim Korea Utara telah terjadi dimulai. Hal ini menunjukkan bahwa elit Korea Utara, yang mana tidaklah yakin akan masa depan mereka, dapat berbalik arah kapan semata merekan mengamati peluang.
Mantan Konselor Ri berkata, ‘Para diplomat Korea Utara merupakan Kotjebi (anak-anak tunawisma di area Korea Utara) yang berdasi… upah merekan $0,03 per bulan.’ Ini adalah adalah upah bulanan yang mana umum bagi seseorang pegawai pemerintah Korea Utara, lalu jumlah agregat ini bahkan kurang dari nilai tukar satu kilogram beras.
Sudah lama berlalu masa di tempat mana dia sanggup mengandalkan penghasilan untuk permintaan sehari-hari di area Korea Utara. Akibatnya, korupsi sudah pernah menjadi begitu meluas di area rakyat Korea Utara sehingga menjadi penyakit yang dimaksud tidak ada dapat disembuhkan. Menuntut dan juga membayar suap telah lama menjadi begitu normal.


